Aktor Legendaris Senjakala di Manado Ray Sahetapy (Ferenc Raymond Sahetapy) Meninggal Dunia

Jakarta – 2 April 2025. Ferenc Raymond Sahetapy atau lebih dikenal Ray Sahetapy, aktor senior Indonesia yang sangat dikenal, meninggal dunia pada 1 April 2025 dan disemayamkan di Rumah Duka Sentosa Jakarta Pusat. Dunia perfilman Indonesia berduka atas kepergian aktor senior Ray Sahetapy. Aktor kelahiran Donggala-Palu, Sulawesi Tengah.

Berita duka ini menggemparkan dunia hiburan Indonesia karena Ray Sahetapy telah lama dikenal dengan kemampuan aktingnya yang luar biasa. Ia telah berperan dalam berbagai film, sinetron, dan serial televisi, serta memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan seni peran di Indonesia.

Ray Sahetapy merupakan seorang aktor yang berasal dari Indonesia. Ia lahir di Donggala, Indonesia pada 1 Januari 1957. Sewaktu kecil ia tinggal di Panti Asuhan Yatim Warga Indonesia dan bercita-cita menjadi seorang aktor. Oleh karena itu, untuk mengejar mimpinya, ia meneruskan studi di Institut Kesenian Jakarta pada tahun 1977. Ia menyelesaikan studinya di tahun 1988. Ia menjajal film pertamanya yang berjudul Majalah Gadis. Film tersebut disutradarai oleh Nya’ Abbas Akup. Dari penggarapan film pertamanya itu, Ray Sahetapy bertemu dengan Dewi Yull. Ia akhirnya menikahi Dewi Yull pada 16 Juni 1981.

Didalam Unggahan Instagram Dewi Yull menuliskan Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Roji’un, telah berpulang ayah dari anak-anakku,” tulis @dewiyulloficiall

Dalam karir filmnya, Ray pernah masuk nominasi aktor terbaik Festival Film Indonesia tahun 1989 melalui film Noesa Penida (1988) garapan Galeb Husen. Setelah itu, Ray sempat dinominasikan lagi pada ajang yang sama sebanyak tujuh kali. Sampai sekarang Ray tercatat telah membintangi lebih dari 70 film. Ray juga pernah membuat sanggar teater. Lewat sanggarnya tersebut, Ray sempat membuat geger karena membuat gagasan mengubah nama Republik Indonesia menjadi Republik Nusantara. Selain itu, Ray tercatat sebagai salah satu pengurus Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI).

Terkait dengan “Senjakala di Manado,” judul ini mungkin merujuk pada momen-momen terakhir kehidupan Ray Sahetapy atau bisa jadi menjadi simbolisasi dari akhir masa hidupnya yang terjadi di Manado, kota asalnya.

Senjakala di Manado merupakan film drama Indonesia yang dirilis pada 1 Desember 2016. Film Senjakala di Manado dibintangi oleh Ray Sahetapy dan sejumlah artis top tanah air, dengan mengambil lokasi syuting di sejumlah lokasi yang ada di Sulawesi Utara: yakni Manado, Minahasa, Tomohon.

Senjakala sendiri memiliki konotasi metaforis yang kuat, sering kali merujuk pada waktu menjelang akhir, baik secara literal maupun filosofis, sebuah gambaran yang tepat untuk menggambarkan perjalanan hidup seseorang yang sudah mencapai senja.

Film Senjakala di Manado memperoleh sambutan hangat dan sukses ditayangkan di Amerika Serikat. Film yang dibintangi Ray Sahetapy, Mikha Tambayong dan Fero Walandouw itu diputar di tiga kota seperti Los Angeles, Washington DC dan New Jersey. Tentunya diharapkan film Senjakala di Manado bisa memperkenalkan keindahan Indonesia di mata dunia.

Semoga Ray Sahetapy mendapatkan tempat yang baik di sisi Tuhan, dan karya-karya yang ia tinggalkan dapat terus dikenang oleh masyarakat Indonesia.

 

Red Tommy Karwur dan Irwan Hasiholan



Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar